Kamis, 03 Maret 2011

Kesulitan itu hiasan

"sejak kecil aku tinggal bersama ibuku. hidup kami seadanya. tetapi, ibuku selalu mengajarkan kepadaku agar tidak menyerah dan tetap bekerja. Insya Allah, ada rejeki", begitulah curhat Udin memulai kisahnya.
Udin memang bukan tergolong anak yang beruntung ketika kecil. semenjak bayi, ia ditinggal merantau ayahnya ketempat yang jauh. Setiap pagi, ia harus mengurus semua kebutuhan hidupnya sendiri karena sang ibu pergi ke pasar mencari nafkah sehabis shalat subuh. Selepas pulang sekolah, ia membantu kakeknya menggembala kambing dan terkadang mencari rumput untuk makanan kambingnya. Memang sedikit waktu bermainnya, tetapi pengalaman kerja ini menjadikan Udin tumbuh sebagai pemuda yang mandiri dikemudian hari.

Adakah diantara kita yang kesulitan membayar uang sekolah? jika jawabannya "iya", kita punya kesamaan dengan Udin. Semenjak masuk SMA, Ibunya tak punya cukup biaya. Tidak jarang, ia kucing kucingan dengan petugas sekolah soal pembayaran uang sekolah. Sempat ada niat mengajukan beasiswa, tapi niat baik itu tak pernah disambut baik oleh pihak sekolah karena Udin bukan siswa yang berprestasi. Sering ia hanya menelan air ludah ketika temannya membeli barang baru atau ikut bimbingan belajar.
Akhirnya, Udin menemukan ide unik untuk mendapatkan uang melalui jualan buku. ia tidak langsung membeli buku melainkan hanya mengumpulkan katalog buku dari beberapa toko. Katalog itu kemudian disusun rapi dan diedarkan di kelas kelas. Apa tujuannya?tentu saja untuk mencari pembeli buku. Teman temannya yang mau memesan buku, tinggal melingkari daftar buku yang dibeli. Nah, setelah itu, Udin membelikannya di toko buku.
"aku mendapatkan diskon 20-30% per buku, nah diskon itu keuntunganku", ungkap si Udin.
Selain melakukan usaha itu, si Udin juga menjadi buruh di kebun salah satu tetangganya. Ia membersihkan gulma yang tumbuh subur di sekitar pohon salak. Tak jarang, bersama ibunya ia harus memanggul pupuk kandang untuk disebar disekitara pohon salak. Pekerjaan berat ini biasanya dikerjakan selepas pulang sekolah atau ketika waktu libur. Malu dan bau bukan hal yang harus dipikirkan saat itu. Uang dan uang adalah hal yang terbetik dalam pikiran saat itu.
Perjuangan Udin tidak hanya berhenti disitu. Ketika malam dimusim kemarau tiba, ia merelakan tubuhnya untuk digigit rasa dingin, nyamuk dan takut. kenapa? karena ia menjadi petugas penjaga air dikebun kebun salak milik tetangga. Meskipun cuma 5 ribu rupiah setiap malam, Udin dengan senang hati melakoni pekerjaan itu.

Setelah lulus SMA, ia melanjutkan pendidikannya disalah satu fakultas ternama, UGM. Di Universitas ini, lagi lagi udin ketemu dengan masalah uang. Ia tidak memiliki cukup dana untuk membiayai kuliahnya., apalagi beli buku buku tebal yang harganya ratusan ribu rupiah. lalu apa yang terjadi? ia jualan buku lagi. Tapi buku yang ia jual kali ini berbeda. Ia menjual buku buku khusus Ujian Masuk UGM.
"sebelum masuk kuliah, aku mengangkut buku ke tempat pendaftaran UM UGM. Tak lupa kain seluar 3 m2 kuselipkan diantara tumpukan buku sebagai alas jualan. tepat pukul 7 pagi, kubuka dagangan secara lesehan sambil menunggu waktu kuliah dimulai. Terkadang malu kalau ada pembeli cewe, tapi mau gimana lagi, mungkin dari situ rejeki saya"
Ditahun kedua, Udin tak mau lagi sekedar berjualan buku. Ia mengkoordinir teman temannya untuk berjualan buku. Tidak hanya itu, ia juga turut andil dalam proses produksi buku. Sibuknya kala itu sungguh luar biasa. Sudah bisa ditebak bahwa hasilnya pun bertambah meskipun tidak seberapa. akan tetapi, semua harus dibayar mahal karena Udin kelelahan dan sakit.
"setelah mengerjakan banyak hal, akhirnya aku sakit dan opname 3 hari dirumah sakit", sesal Udin.
 Meski begitu, Pekerjaan itu rupanya belum cukup menutup uang transport PP kampus yang mencapai 40 km. akhirnya Udin menawarkan diri menjadi pengajar privat disalah satu lembaga bimbingan belajar. Diterima! Tapi sayang, jarak tempat Udin mengajar dengan rumahnya cukup jauh, sekitar 20 km. Dengan gaji mepet, ia kembali muter otak. Ia biasakan tidak jajan dan makan ditempat ia mengajar. Pernah suatu ketika diomelin salah seorang siswa les, "kamu kesini cuma mau makan ya?", kenang Udin waktu itu.

Begitulah Udin kecil yang kini telah menjadi sarjana dengan gelar Cumlaude. Ia mengajarkan kepada kita bahwa usaha itu tidak harus diatas kursi empuk, naik mobil mewah, dan tangan penuh coretan pulpen. Hidup memang penuh dengan perjuangan, tapi jika mengeluh pada nasib maka nasib kita akan seperti itu terus.